Minggu, 20 Oktober 2013


2. 1    Sejarah Munculnya Pasek Bendesa Mas di Bali
          Panca Pandita, Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari India yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kerajaan Kediri. Kedatangan mereka ke Indonesia adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke pulau Bali tersebut adalah:
1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.
Yang tinggal di Jawa adalah: Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan Mpu Genijaya.
    Mpu Geni Jaya (1157) mempunyai 7 putera (Sapta Pandita) yang tinggal di Kuntuliku, Jawa Timur. Dalam tahun 1157 Mpu Geni Jaya pergi ke Bali untuk mengunjungi adik-adiknya lalu menetap di Gunung Lempuyang. Pada saat kedatangan Mpu Gnijaya, Bali diperintah oleh Gajah Waktra (raja Bali Kuno terakhir) beserta pepatihnya Kebo Iwa dan Pasung Gerigis memerintah Bali pada tahun 1337-1343. Kemudian Bali di serang dan di taklukan oleh patih Gajah Mada dari Majapahit. Setelah perang, Mpu Jiwaksara yaitu generasi ke-6 dari Mpu Geni Jaya diangkat menjadi puncuk pimpinan pemerintahan Majapahit di Bali dengan gelar Patih Wulung. Ayahnya Mpu Wijaksara juga ikut ke Bali dan merupakan pendeta pertama dari Majapahit yang mengatur tata keagamaan di Bali setelah Bali jatuh ke tangan Majapahit (babad Bendesa Manik Mas,1996:102).
          Pada tahun 1350 Patih Wulung (Mpu Jiwaksara) berangkat ke Majapahit untuk memberi laporan kepada Ratu Majapahit yakni Tri Buana Tungga Dewi tentang keadaan di Bali dan sekaligus mohon supaya cepat diangkat seorang raja di Bali sebagai wakil pemerintahan Majapahit. Akhirnya diangkatlah salah satu putra dari Danghyang Kepakisan, yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, berkedudukan di Samplangan yang dalam perkembangannya pindah ke Gelgel (Kabupaten Kelungkung sekarang).
Berselang beberapa tahun, Sri Kresna Kepakisan ingin mempersatukan Blambangan dan Pasuruan yang dikuasai kakaknya, yaitu Dalem Wayan dan Dalem Made dengan kerajaan Bali. Penyerangan dilakukan ke Pasuruan dibawah pimpinan Patih Wulung. Sri Kresna Kepakisan berpesan agar sang kakak jangan sampai dibunuh. Namun, dalam perang tanding antara Patih Wulung dan Dalem Pasuruan, yang terakhir ini terkena senjata yakni Dalem Pasuruan yang pada akhirnya menyebabkan ia gugur.
Setelah patih Wulung dengan pasukannya kembali ke Bali dan melaporkan jalannya peperangan yang berakhir dengan gugurnya Dalem Pasuruan, Sri Kresna Kepakisan menjadi sangat marah lantaran Patih Wulung telah melanggar pesannya sebagai tersebut di atas. Patih Wulung diusir dari Gelgel setelah dibekali beberapa sikut tanah dan beberapa ratus prajurit. Di samping itu juga diberi gelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Patih Wulung pindah ke Bali Tengah yang kemudian disebut Bumi Mas kira-kira dalam tahun 1358. Ki Patih Wulung atau Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas mempunyai 2 putra, yaitu: Putra pertama adalah Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas II (nantinya akan menurunkan warga pasek Bendesa yang tersebar di seluruh Bali) yang menetap di Desa Mas dan menurunkan:
a. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
b. Gusti Luh Made Manik Mas,
c. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.
Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani. Putra kedua dari Patih Wulung adalah Kiyai Gusti Pangeran Semaranata, menetap di Gelgel dan menurunkan Gusti Rare Angon, leluhur dari Kiyai Agung Pasek Gelgel.
Perlu diketahui istilah Pasek berasal dari istilah kata pacek yang berarti pejabat dan semua pegawai kerajaan dari Perdana Menteri, Panglima Perang, Prajurit dan pegawai lainnya adalah pejabat. Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah pasek sering dipakai untuk menunjukan asal-usul seseorang/kawitan dari keluarga atau leluhur mana ia berasal dan pemaknaan seperti inilah yang sekarang sering digunakan di Bali walaupun ditinjau lebih lanjut dari segi historis dan etimologisnya pemakain istilah tersebut tentunya sudah melenceng jauh.

2.2     Penyebaran Pasek Bendesa Mas di Bali
2.2.1 Kedatangan Danghyang Nirartha ke Bali.
Pada zaman Dalem Watu Renggong (1460 – 1550) datanglah ke Bali Danghyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh dalam tahun 1489 lalu diangkat menjadi Bagawantha kerajaan. Danghyang Nirartha adalah putra dari Danghyang Semara Natha yang bersama-sama pindah dari Majapahit ke Daha, karena Majapahit telah jatuh ke tangan Islam pada tahun 1474. Islam kemudian juga merambat ke Kediri dan oleh karena itu Danghyang Nirartha pergi bersama kedua putra-putrinya yang masih kecil, yaitu Ida Suwabawa (wanita) dan Ida Kulwan (laki) ke Pasuruan. Di sini beliau menikah lagi dengan seorang putri Pasuruan yang melahirkan Ida Lor (Ida Manuaba) dan Ida Wetan.
Dari Pasuruan Danghyang Nirartha pindah lagi ke Belambangan dimana beliau menikah dengan adiknya Dalem Blambangan yang bernama Patni Keniten Saraswati dan melahirkan Ida Selaga (Ender), Ida Keniten, dan Ida Nyoman Stri Rai (wanita). Timbul keributan di istana Blambangan lantaran istrinya Dalem jatuh cinta pada Mpu Nirartha dan Dalem menuduh Nirartha mengguna-gunai sang permaisuri. Akhirnya Nirartha diusir dari Blambangan dengan ketujuh putra putrinya dan sang istri Patni Keniten Saraswati. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, beliau memutuskan untuk meninggalkan kerajaan Belambangan menuju Bali Dwipa.
Lontar, 14 a.14b :
Kunang sedateng puwa sira ring Bali Aga, tumedun sireng pelabuhan Purancak, Teninggal de maja ya, kari sire muang rabi tunggal lan putra pitung wiji, saha gagawan nira pusaka, piagem, kalpika ratna bang terusing leng. Tansah kinatik keris kaliliran nira Ki Baru Jarijimuang tateken Ki Baru Rambat. Dadia katemu wang mangwan ring tepining samudra….
Sesampaianya di Bali Aga, turun di pelabuhan Purancak, buah labu ditinggalkan disana, sedangkan istri dan ketujuh putra putrinya beserta pusaka, piagam, kalpika ratna bang. Di tepi pantai begitu sangat sepi tak ada orang yang terlihat di sana, kemudian Danghyang Nirartha memukul mukul pusakanya, keris baru jariji, dengan tongkatnya Ki Baru Rambat.
Tiba-tiba ada orang yang lewat dari tepi laut, beliau bertanya kepada orang itu tentang kemana arah jalan keluar dari pantai ini. Orang tersebut menunjuk kearah wetan, maka berjalanlah beliau disertai ketujuh putra putrinya ditemani sang istri. Perjalanan dilanjutkan ke arah timur dan suatu ketika rombongan sampai di Desa Gading Wani, yang penduduknya kebetulan ditimpa penyakit sampar.
Kedatangan Danghyang Nirartha disambut oleh Ki Bendesa Gading Wani dengan ramah dan memohon kepada beliau agar sudi menolong mengobati mereka yang sedang sakit. Berkat kesaktian Danghyang Nirartha berhasil menyembuhkan rakyat Gading Wani dan sejak itu beliau disebut pula Pedanda Sakti Wawu Rauh. Sebagai tanda bakti Ki Bendesa Gading Wani mempersembahkan kepada beliau seorang putrinya bernama Ni Luh Petapan untuk dijadikan pelayannya.
Danghyang Nirartha makin terkenal di Bali dan oleh karena itu Ki Pangeran Bendesa Manik Mas mengundang beliau untuk datang ke Bumi Mas, lebih-lebih setelah diketahui, bahwa mereka masih saudara sepupu. Ki Pangeran Bendesa Manik Mas I membuatkan pasraman dan sebuah permandian di Bumi Mas untuk Danghyang Nirartha. Setelah cukup lama tinggal di Bumi Mas, Ki Pangeran Bendesa Manik Mas mempersembahkan putrinya Gusti Nyoman Manik Mas Genitri kepada Danghyang Nirartha untuk dijadikan istri (lontar Bendesa Mas:72b). Dari perkawinan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ida Bokcabe. Ni Berit putri yang dibawa dari Melanting-Pulaki dan Luh Petapan putri dari Ki Bendesa Mas Gading Wani akhirnya dikawini pula dan dari yang pertama lahir Ida Andapan sedangkan dari yang kedua lahir Ida Petapan.

2.2.2 Bumi Mas Diserang Sukawati (1750)
Kira-kira dalam tahun 1750 Bumi Mas diserang oleh Kerajaan Sukawati, oleh karena Pangeran Bendesa Manik Mas II tidak mau menyerahkan pusaka-pusakanya kepada Dalem Sukawati. Barang-barang pusaka dimaksud adalah pusaka leluhur Majapahit yang dahulu diberikan oleh Ratu Majapahit dan Patih Gajah Mada kepada Ki Patih Wulung sebagai penguasa Bali Aga Majapahit. Pusaka itu terdiri dari keris, mahkota dan sebuah permata yang sangat dimuliakan bernama Menawa Ratna.
Penolakan Pangeran Bendesa Mas tersebut berdasarkan sebuah prasasti yang dahulu di keluarkan oleh Dalem Kresna Kepakisan (leluhur Dalem Sukawati) kepada Ki Patih Wulung ketika diusir dari Gelgel ke Bumi Mas. Dalam prasasti ini antara lain di muat: “Kekayaan, harta benda, pusaka-pusaka dan lain-lain yang menjadi milik Bendesa Mas tidak boleh diambil atau dijarah atau dikuasi”.
Dalem Sukawati tidak mengindahkan atau tidak memahami isi wisama ini, lalu Bumi Mas diserang dengan pasukan besar yang mengakibatkan terbunuhnya Sang Pangeran Bendesa Mas, dan keluarganya melarikan diri dari Bumi Mas termasuk keluarga Brahmana Mas. Keluarga Bendesa Mas menjadi cerai berai dan mengungsi kesegala plosok Pulau Bali dan juga termasuk ke Gading Wani.
Dalam persembunyiannya tersebut para keturunan Bendesa Mas ini menyamarkan diri dengan tidak memakai gelar kebangsawanannya agar tidak dapat diincar oleh pasukan Sukawati dan mereka berbaur dan hidup dengan masyarakat dimana mereka bersembunyi hingga sekarang ini. Namun, mereka tetap mengakui bahwa leluhurnya adalah berasal dari Ki Bendesa Manik Mas dan gelar tersebut kebanyakan telah di modivikasi dan tidak lagi dipakai akhiran kata “Mas” melainkan disesuaikan dengan nama daerah tempat mereka tinggal, seperti Pasek Bendesa Gading Mani (keturunan Bendesa Mas yang menetap di Gading Wani), Pasek Bendesa Dalem Guliang (menetap di banjar Guliang, Desa Pejeng, Gianyar).
Berdasarkan babad-babad dan sumber lainnya yang ada, maka Pura Kawitan utama para keluarga Bendesa Mas adalah Pura Lempuyang Madia, bekas parhyangan Mpu Genijaya. Di samping itu pula nyungsung ke Pura Gading Wani (Lalanglinggah), Pura Taman Pule (Mas), Pura Çilayukti (Padang Bai), dan Pura Dasar Bhuwana (Gelgel). Di Pura Besakih dibangun sebuah pelinggih untuk memuja arwah suci Danghyang Nirartha, di sebelah timurnya didirikan pula pelinggih untuk Bendesa Mas. Namun, lelintihan atau asal-usul dan hukum kepurusa, para Bendesa Mas patut nyungsung Pura Pedharman di komplek Pura Besakih, yaitu Pura Ratu Pasek. Sebagai bagian dari Warga Pasek, Pasek Bendesa Mas merupakan bagian dari Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi yang merupakan perkumpulan besar yang bertujuan untuk mengikatkan tali persaudaraan antar semua keluarga pasek. Dan organisasi ini juga merupakan salah satu bukti adanya persatuan dari seluruh warga pasek khusunya yang ada di Bali.


Isi Singkat Babad Pasek Bandesa
http://www.babadbali.com/image/bullet/kemboja-pot.gif
Diceriterakan keturunan I Gede Manik Mas, berempat di Jembrana di Banjar Wani Tegeh yang asalnya dari Majapahit.
Adalah keturunannya yang berada di Pujungan bernama I Gede Tobya. Ada juga di Beratan yang bernama I Gede Jagra. Senang lah hati Ida Ayu Swabawa, yang berstana di Pulaki dipuja oleh orang Sumedang. Yang ada di Pujungan dan Beratan dengan tekun mempelajari ajaran Canting Mas, Siwer Mas seperti Weda Sulambang Gni, Pasupati Rancana.
Inilah yang diterapkan oleh I Gede Bandesa Mas. Bila mana ada keturunan Ki Bandesa Mas, pandai dengan ajaran agar diimbangi dengan perbuatan.
Diceriterakan Ida Bhatara Danghyang Dwijendra pergi ke Gelgel, diiringkan oleh turunan Ki Gede Bandesa Mas. Kemudian sebelum Ida ke Gelgel, di mana putrinya Dewa Ayu Swabawa disembunyikan, lalu dikutuknya penduduk Pulaki hingga lenyap.
Tersebut pemerintahan Dalem di Gelgel, datanglah Sri Aji Kepakisan. Beliau lah mendirikan Gelgel, dengan para Punggawa, Manca, dan Prajuru yang dilengkapi dengan Pendeta Siwa Buddha dan Bhujangga. Pengiring dari Sri Kresna Kepakisan adalah Arya Kuta Waringin, Sira Arya Manguri, Sira Arya Dalancang, dan Sira Arya Guda dan yang diandalkan adalah Ki Patih Ularan, Ki Pangeran Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa dan juga para prajurit sekalian.
Kemudian berkata lah Ida Dalem kepada Ki Pangeran Pasek.
Oleh karena baktinya Ki Bandesa terhadap sira Kresna Kepakisan, maka diberi jabatan Ki Bandesa Mas.
Adapun para putra beliau seperti Ki Gusti Agung, Ki Gusti Nginte, Ki Gusti Jelantik, Ki Gusti Pinatih, Ki Gusti Dawuh, Ki Gusti Lanang, Ki Gusti Tapa Lare dan sebagainya. Juga para pangeran, Ki Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa Manik Mas, Ki Gede Dangka, Ki Gede Gaduh, Ki Gede Tangkas Agung Duryan, I Gede Kabayan, Ki Gede Pamregan, dan Ki Gede Abyan Tubuh.
Ada lagi keturunan dari mempelai istri yang bernama Ki Gede Pulasari, Ki Gede Babandem, Ki Gede Salahin, Ki Gde Kamoning, dan Ki Gede Suruh. Keturunan Ki Pasek Gelgel sebanyak 8 orang seperti Pangeran Gelgel, Pangeran Abyan Tubuh, Pangeran Selat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur dan Pangeran Anyaran. Juga diceritakan Warga Pasek Bali Mula (warga pasek sebelum kedatangan Sri Kresna Kepakisan ke Bali), yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Celagi, Ki Gede Bandesa Gelgel menurunkan Pangeran Bandesa Gelgel dan Pangeran Manik Mas. Ki Pangeran Gelgel berputra Ki Abyan Tubuh, Ki Gede Selat dan Ki Gede Samping. Ki Pangeran Manik Mas menurunkan Ki Gede Manik Mas dan Ki Gede Pasar Badung, Ki Gusti Agung bersama Ki Gusti Kaleran bertentangan dengan Dalem dan membuat daya-upaya bersama Ki Gusti Lanang Jungutan. Dan Ki Gusti Tapa Lare dan para putranya sehingga daya upaya ini yang menyebabkan banyak para Arya di Gelgel. Dan juga para Pangeran sekalian seperti Ki Gede Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa Manik Mas, Ki Gede Dangka, Ki Gede Gaduh, Ki Gede Tangkas Agung Duryan, Ki Gede Kubhayan, Ki Gede Pamregan, Ki Gede Abyan Tubuh.
http://www.babadbali.com/image/bullet/kemboja-pot.gif
Ada pula Pangeran dari Pradana (keluarga wanita) dari Sri Aji Bali seperti Ki Gede Bala Pulasari, Ki Gede Babandem, Ki Gede Salahin, Ki Gede Kamoning dan Ki Gede Suruh. Demikian banyaknya keluarga Pangeran.
Diceriterakan keturunan Ki Pasek Gelgel yang menurunkan 8 orang- yaitu Pangeran Gelgel, Pangeran Abyan Tubuh, Pangeran Slat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur dan Pangeran Anyaran.
Ada juga Warga Pasek Bali Mula (asli) yaitu pasek Kedisan, pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Celagi, dan Pasek Kayu Selem. Putra dari Ki Gede Bandesa Gelgel adalah Pangeran Bandesa Gelgel dan Pangeran Manik Mas. Pangeran Gelgel kemudian menurunkan Ki Gede Abyan Tubuh, Ki Gede Selat dan Ki Gede Samping. Sedangkan Ki Pangeran Manik Mas berputra 2 orang yang bernama Ki Gede Manik Mas dan Ki Gede Pasar Badung.
Ki Gusti Agung, Ki Gusti Kaleran, dan para manca membuat kekacauan dan menentang Ida Sri Kresna Kapakisan dengan jalan bersekongkol dengan raja Karangasem dan para putra-putranya sekalian. Kemudian Ida Sang Aji Bali diutus ke Besakih dengan melihat kahyangan yang ada di Bali. Para putra Pasek Bali Mula ada yang di Payangan, di Carangsari, di Desa Tegal Lalang, di Blahbatuh, ada di Negari, di Sibang, di Lukluk di Batu Sepih Badung, Marga, Penebel, Wanasari dan sebagainya.
Putra Ki Pasek Kubhayan ada di Batur, Tabanan, Baturiti, Pajaten, di Kerambitan, Antasari, dan Sanda. Dan yang di Tabanan menurunkan di Gobleg.
Putra Ki Gede Abyan Tubuh, mengungsi ke Pandak di Badung, Sibang Beranjingan, Bajra, Sanda Buleleng dan di Banjar. Putra Ki Pasek Gelgel yang berada di Gianyar, ada yang ke Blahbatuh, ke Mengwi, Badung, Tabanan, Buleleng, dan yang di Kediri diangkat menjadi Prabekel. Mengenai putra Ki Gede Manik Mas minggat dari rumah. Kemudian Ki Gede Abyan Tubuh berada di Mangwi sehingga anak cucu beliau mengaku berasal dari Mengwi, Ke Jimbaran, ke Kaba-Kaba, ada yang ke Tabanan. Diceriterakan putranya yang ada di Jimbaran yang mempunyai putra yang bernama Ki Gede Bandesa Gumyar seorang dukun yang tinggal di Desa Tangkan. Ada pula yang ke Blahbatuh ada yang ke Desa Canek, ke banjar Tunon dan ada yang ke Payangan. Ki Gede Bandesa Selat menyebar, ada di Selat, di Apuan, di Desa Duda, di Tirta, di desa Tista Karangasem, di Taman Bali, di Panarungan, di Marga dan ke Jelantik. Ki Gede Dangka, menurunkan putra yang menghamba di Klungkung dan selanjutnya pindah ke Badung tinggal bersama Ida Padanda Raka dan Geria Gede. Dari Geria Gede lalu-pindah ke Sesetan. Putranya yang lain ada di Baturiti, ada di Buleleng, dan ada juga di Tohpati.
Perjalanan Ki Gede Samping ke Badung, yang selanjutnya pindah-pindah ke Mengwi, ke Marga dan sampai ke Jembrana.
Dan turunan Ki Bandesa Manik Mas juga menyebar ke desa-desa seperti ke desa Batan Tingkih, Tulikup, ke Blahbatuh, ke Gunung Bangli, di Pejeng, di Sempidi, di Bongkasa, Tabanan, Wanagiri, Sanda, Buleleng, Gobleg, di Munduk Sawan, Jagaraga, Sangsit, Sukasada, dan di Banjar.
Keturunan Ki Bandesa Pasar Badung menyebar dari Gelgel menuju Gianyar, di Blahbatuh, Negara, Badung, ke Pandak, di Kadiri, di Kulating, Pangkung Tibah, Jegu dan Tegallinggah.
Diceriterakan asal mula dari warga Ki Bandesa Manik Mas yang direstui oleh Ida Padanda Dwijendra serta ajaran yang diberikan beliau dapat dipakai pegangan. Karena baktinya Ki Bandesa Manik Mas dengan mempersembahkan putrinya kepada Ida Pedanda. Kemudian Ida Pedanda mendirikan Parhyangan di Desa Mas yang diberi nama Pura Taman Pule. Ida Pedanda mempunyai putra bernama Pangeran Ida Bukcabe yang kemudian dihormati oleh wangsa Brahmana sekalian. Untuk pemujaan Ida Bukcabe dibangun sebuah tugu (Pasimpangan) yang berbentuk gedong yang beratapkan bata. Dan untuk pemujaan Bhatara di Basukih berupa Meru tingkat 5. Tugu pada pintu adalah pemujaan Jro Gede Dangka.
Ajaran mistik dari Ida Ayu Swabawa yang diberikan oleh Ida Pedanda Dwijendra berupa Siwer Mas, Canting Mas dan Kalabang Gni.
Ditegaskan juga asal usul keturunan Ki Pasek Gelgel yaitu Hyang Gnijaya berputra Mpu Witadharma dan Sang Kulputih. Sang Mpu Witadharma menurunkan Mpu Wiradharma. Mpu Wiradharma berputra 3 orang yaitu Mpu Lampita. Mpu Pastika, dan Mpu Ajnyana. Tetapi hanya Mpu Lampita menurunkan putra 3 orang yaitu Mpu Pradah, Mpu Kuturan, Mpu Katrangan. Mpu Pradah berputra Mpu Bahula, Mpu Bahula berputra Mpu Tantular dan Mpu Pudra. Mpu Tantular berputra 4 orang yaitu Mpu Panawasika, Mpu Asmaranata, Mpu Sidhimantra, dan Mpu Kapakisan. Mpu Asmaranata menurunkan Mpu Angsoka, dan Mpu Nirartha. Mpu Nirartha bernama juga Bhatara Dwijendra atau Bhatara Sakti Wawu Rauh. Mpu Sidhimantra berputra Ida Manik Angkeran. Ida Manik Angkeran berputra Ida Tulusdewa dan Ida Kacang Paos. Ida Tulusdewa berputra Ida Banyakwide dan Arya Sidemen, Ida Banyakwide menurunkan Arya Pinatih atau Arya Wang Bang, Mpu Kapakisan berputra Danghyang Kresna Kapakisan. Mpu Ajnyana berputra Mpu Pananda bertempat di Silayukti. Ada juga Mpu Jinaksara yang menurunkan Mpu Ketek yang kemudian menurunkan Arya Tatar. Arya Tatar bergelar Patih Ulung. Patih Ulung berputra Arya Semar, Arya Semar berputra Gusti Langon. Dari I Gusti Langon inilah yang menurunkan 6 orang wangsa Pasek di Bali seperti Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Denpasar, Ki Pasek Tangkas, Ki Pasek Tohjiwa, Ki Pasek Nongan dan Ki Pasek Prateka serta Ki Pasek Kebayan.
Diceriterakan Sira Bhatara Dwijendra setelah kawin dengan putra Ki Pangeran Mas yang menurunkan Ida Padanda Bukcabe. Ida Bukcabe ini berputra 3 orang yaitu Ida Padanda Kacang Paos, yang berada di Mas, Ida Bukyan bertempat di desa Abiansemal yang diemban oleh Arya Dawuh, yang paling bungsu Ida Padanda Baluwangan tinggal di-desa Padang Jarak yang diiringi oleh rakyat sebanyak 40 orang. Ida Padanda Baluwangan kemudian pindah ke Sanur yang diantarkan oleh Arya Pacung dengan gelar Ida Padanda Kidul.

http://www.babadbali.com/pustaka/babad/babad-pasek-bendesa.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar